Borneo Hardcore Siap Meraung Dalam Album Bertajuk "Speak To The World"

11 curahan kolektif alur kehidupan dalam perspektif personal

Monster of Stonehead adalah nama awal sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menggantinya menjadi STONEHEAD. Band hardcore yang sudah tidak asing lagi di telinga para pelaku indie movement Kalimantan Tengah ini telah berkontribusi memajukan skena music di kota mereka sejak 2004. Berawal dari covering lagu-lagu milik raksasa hardcore dari Connecticut yaitu Hatebreed yang merupakan influence terbesar mereka dalam bermusik. Sempat merilis EP berisikan 4 lagu di tahun 2006 yang kemudian direinkarnasi menjadi full album di tahun 2007 dengan titel "Discipline, Respect and Attitude" bermuatan 6 lagu baru dan 4 lagu lama yang direkam ulang.

Beberapa kali bongkar pasang personil tidak membuat semangat band tangguh kota Palangkaraya ini mengendor. Semakin bergulirnya waktu semakin membuat energi mereka berkobar, terbukti dengan eksistensi yang sampai saat ini tetap meradang. Formasi terkini Stonehead diperkuat oleh empat lini yang kokoh yaitu Iman sebagai pengendali massa dan penyampai pesan, Ableh sebagai peracik amunisi hi gain, Dadang sebagai penyalur low end frekuensi dan Robi sebagai penghasil beat yang dinamis. Dengan formasi teraktual yang solid ini, mereka siap meracau di belantika musik tanah air dengan menyuguhkan dentuman lagu-lagu terbaru.

Operator penggarapan album dipercayakan kepada Edo "Funhouse Studio" sebagai pengeksekusi mulai dari recording, mixing dan mastering yang dilakukan di Bandung. 11 amunisi baru bertegangan tinggi mereka tebarkan di album terbarunya ini. Serangan deru vokal yang menggonggong sepintas mengingatkan kepada raungan galak milik Max Cavalera. Aggressive pattern dan Groove breakdown yang pumpin’ sekilas membawa kita ke era ‘Satisfaction Is The Death of Desire’ nya Hatebreed. Sedikit memasukan unsur blast beat dalam permainan drum menambah kegarangan album ini.

Album yang di rilis bersama Bloods Records ini, selalu memiliki pesan yang terlontar didalamnya. Speak To The World merupakan tajuk yang di dipilih oleh Stonehead sebagai metafor yang merepresentatif kan isi dari album kedua ini. 11 curahan kolektif alur kehidupan dalam perspektif personal diraungkan secara lantang dalam struktur nada minor. Personal konflik, problematika sosial, serta realita-realita yang berlangsung di sekitaran mereka menjadi irisan tema dalam lirik. Speak To The World merupakan salah satu album yang harus dimiliki dalam deretan koleksi album hardcore kalian. Dengan rilisnya album ini semakin membuktikan bahwa Borneo bukan hanya memiliki alam yang liar, tapi juga memiliki band-band berbahaya yang berbisa.

STONEHEAD SITE :

Instagram : Stoneheadofficial